Ketika PSSI memutuskan untuk fokus pada pembinaan pemain usia dini menuju Timnas Masa Depan, terus terang itu adalah tindakan keliru karena menunda pencapaian prestasi yang seharusnya bisa direalisasikan dengan segera. Istilahnya, peluang sudah didepan mata, tetapi PSSI kembali mundur sehingga pencinta bola mesti bersabar entah sampai kapan. Bila PSSI bisa juara ya disyukuri, bila gagal PSSI bisa berkilah karena sedang membina Pemain Muda.

Saya akan tunjukkan bahwa Kebijakan itu salah sekaligus juga tidak ada jaminan bahwa pembinaan itu akan memberi hasil yang diharapkan: yakni Prestasi tinggi.

Bukan waktunya lagi untuk membina dan membina

Di tengah usia PSSI yang sudah 80 tahun dan sekarang telah memiliki Liga semi profesional berusia 16 tahun, ini menjadi data dan fakta awal bahwa Pembinaan Pemain sudah berjalan baik di tiap klub sebagai konsekuensi logis mereka mengikuti Kompetisi. Pada Klub-klub papan atas, sistem pembinaan ini berjalan cukup baik lewat kompetisi Lokal amatiran sebagai ajang menjaring pemain, ditunjang keberadaan SSB-SSB yang mendukung Kompetisi Lokal itu sendiri.

Bila diamati dengan seksama, ada proses menarik disini, sbb: Siswa SSB berkompetisi untuk tampil di ajang kompetisi lokal lewat sebuah klub tentunya, selanjutnya mereka unjuk kebolehan lagi untuk masuk seleksi Klub utama. Lewat Klub utama yang terlibat di Liga Indonesia, sekali lagi mereka unjuk kebolehan untuk terpilih mengikuti seleksi Timnas. Proses ini sangat baik dan seyogyanya dipelihara bahkan ditingkatkan daya tariknya.

Dan ketika PSSI memutuskan untuk fokus di Pembinaan Usia Muda bagi Timnas, disadari atau tidak upaya ini berpotensi mematikan proses alam yang dijelaskan di atas bahkan mungkin merusak pola umum yang berlaku diseluruh dunia bahwa Kompetisi merupakan Mesin Produk Utama bagi Pemain Timnas. Artinya juga, pembinaan usia dini bagi Timnas kontraproduktif dengan semangat kompetisi itu sendiri.

Mengapa PSSI harus kembali melakukan Pembinaan?

Adapun alasan PSSI seperti terbaca di berbagai media sebelumnya adalah karena performa buruk Pemain Timnas dari sisi Teknis dasar bermain bola dan mental yang dianggap payah. Persoalannya, benarkah begitu? Bila benar, okey silahkan dilanjutkan; namun bila tidak, segeralah dikoreksi karena sejujurnya upaya ini membuat kita kembali ke belakang.

Membina sama halnya dengan membuat Pedang, dan ingat kita fokus membuat Pedang ketika Negara lain justru sedang mengasah Pedang. Setelah Pedang jadi, pedang negara lain sudah sedemikian tajamnya. Nah, bagaimana kita bisa mengejar mereka?

Ok, mari kita analisa dengan kepala dingin untuk menemukan solusinya demi pembenahan yang tepat sasaran.

1. Benarkan Pemain Timnas tidak memiliki Teknis bermain bola yang baik?

Di berbagai pemberitaan sebelumnya, sering kita membaca bahwa Pelatih Timnas kesulitan menerapkan Strategi karena mesti mengajarkan kembali Teknik bermain bola standar, seperti: mengoper-menahan-menggiring-mengocek-menendang-dll. Pertanyaannya sekarang bukan pada: Apa benar Pemain Timnas seperti itu? tetapi Mengapa mereka begitu?

Pemain yang masuk Timnas adalah mereka yang malang melintang di Liga Indonesia, berkompetisi lewat Klub mereka untuk menjadi yang terbaik. Artinya disini, pemain tidak lagi memainkan teknis dasar bermain bola tetapi teknik di atas standar itu sendiri.

Kebanyakan Pemain Indonesia lahir lewat Bakat Alam, secara naluri mereka bisa memainkan bola dengan baik tanpa melalui sekolah atau pelatihan yang sistematis. Bakat itu sudah menyatu dengan skill dasar mereka semenjak kecil dengan menendang-nendang bola sambil menginspirasi pemain idola yang mereka lihat. Semua dilakukan secara spontan dan otomatis sesuai apa yang mereka lihat. Ketika kembali diajarkan hal-hal mendasar, mereka sulit meresponnya karena 3 (tiga) sebab, sbb:

  1. Alam bawah sadar mereka tidak merekam proses itu secara sistematis, karena lahir dari pengamatan sendiri dan sangat alamiah. Ketika diminta untuk dikeluarkan Pemain malah kebingungan.
  2. Pemain jenuh bila harus kembali berlatih dengan Teknik dasar karena mereka sudah terbiasa dengan 'teknis diatas dasar' selama bermain di Liga.
  3. Keinginan Pemain untuk mendapatkan Ilmu lebih tinggi menjadi hilang karena mendapatkan sesuatu yg menurut mereka tidak lagi perlu diajarkan.

Persoalannya, apakah PSSI dan Pelatih Timnas memahami ketiga aspek tersebut di atas?

seandainya dibuat pooling, pemain-pemain Timnas akan setuju dengan point 2 dan 3 tersebut di atas.

Bila sisi teknis dasar ini lantas mengemuka, kesalahan tentu adanya di Pelatih karena tidak memahami Potensi Pemain Indonesia itu sendiri. Tugas Pelatih Timnas adalah meramu strategi berdasarkan kondisi pemain lokal dan bukannya mengurusi teknik-teknik mendasar ketika strateginya sulit diterapkan.

Memang, idealnya adalah Strategi Pelatih didukung oleh Teknik dasar yang baik dalam diri Pemain tetapi bila Teknik yang diperlihatkan Pemain Indonesia saat ini sudah menyatu dengan Teknik dasar mereka yang sulit diurai (alamiah), maka:

Pelatihlah yang perlu menyesuaikan dengan kondisi dasar Pemain dan bukan sebaliknya Pemain dipaksa mengikuti kemauan pelatih. Yang namanya pemaksaan akan selalu menimbulkan tekanan dan mematikan kreativitas. Ini berbahaya dalam pertandingan.

Pola yang benar adalah Pelatih memoles Timnas berdasarkan sumberdaya pemain sehingga pemain menjadi “lepas” tanpa beban dan itu biasanya memunculkan kreativitas. Dalam latihan, perbanyaklah Game dan simulasi; adapun latihan teknik dasar diantara pemain anggaplah sebagai warming up mereka sendiri yang tidak perlu dinilai berlebihan.

Mengapa Ramang cs, Ronny Cs bisa berjaya di Asia tahun 60'an- 70'an? salah satunya karena Pelatih Timnas waktu itu memoles Bakat alam Pemain Timnas apa adanya dan bukannya mengajari mereka cara bermain bola sebagai pengingkaran terhadap Potensi lokal itu sendiri.

Persoalannya, adakah jaminan bahwa penguasaan teknik bermain bola mampu menghasilkan prestasi? Melihat banyaknya Pelatnas selama ini tanpa torehan prestasi, jelas bukan jaminan utama kecuali ada upaya lain di balik itu yang sifatnya revolusioner.

Bisakah Timnas berjaya dengan skill pemain apa adanya? Sejarah sudah membuktikan sendiri di jaman Ramang Cs hingga Ronny Cs. Ini fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Lalu, apakah Skill dasar menjadi tidak berpengaruh bagi peningkatan prestasi? Jelas ada pengaruhnya tetapi itu bukan lagi satu-satunya. Ketika Permainan Sepakbola meningkat kearah Manajemen Permainan, banyak faktor lain yang justru lebih berpengaruh seperti Ciri khas masyarakat, kultur budaya, dsb. Inilah yg dipoles sebagai keunikan permainan bola orang Indonesia yang tidak mungkin disamai oleh negara lainnya.

2. Benarkah Pemain Timnas tidak memiliki Mental Bertanding?

Yang terlihat memang seperti itu, tetapi masalahnya adalah kenapa begitu? Kembali lagi sesuai penjelasan di atas bahwa bilamana Pemain sudah tertekan dalam penerapan Strategi Pelatih, mereka dihinggapi perasaan takut salah, takut diomeli, dsb. Ini jelas sangat tidak mendukung dalam pertandingan dan merupakan biang kekalahan utama Timnas. Bila tekanan itu menyatu dengan perasaan grogi atau kurang percaya diri akibat kekalahan demi kekalahan selama ini, maka lengkaplah sudah mental bertanding Timnas yang tidak mumpuni.

Siapakah yang salah? dari sisi tekanan jelas Pelatih yang bertanggung jawab memasukkan itu ke Pemain, lalu dari sisi grogi ini kesalahan kolektif dari tekanan itu sendiri selama ini. Intinya disini, pilihlah pelatih yang bisa memoles Timnas berdasarkan sumberdaya pemain apa adanya dan bukannya memaksakan sumberdaya pemain mengikuti strategi pelatih. Ini kuncinya!!

Berdasarkan uraian panjang lebar di atas, alasan dibuatnya Pembinaan Usia Muda oleh PSSI menjadi tidak ada dasarnya apalagi bila sasarannya adalah Torehan Prestasi. Untuk itu, segeralah dihentikan!! Mari kita Fokus saja menggapai Prestasi di depan mata dengan apa adanya Modal kita sendiri yang setiap tahun dicetak oleh Kompetisi.

Bila kita fokus mengoptimalkan kekuatan kita sendiri yang ada sekarang, tidak ada alasan untuk tidak tampil di Putaran Final 2014 serta Partai Final Piala Asia 2015. Semua sub sistem pendukung PSSI telah bekerja normal dan cenderung membaik, tinggal bagaimana meramu potensi kita lewat Manajemen Permainan hingga menjadi kekuatan tersembunyi yang ditakuti lawan.

Kita pantas optimis karena kita memang punya alasan untuk optimis.

Bangkitlah PSSI.


Bravo Timnas Indonesia