Sejalan dengan peradaban yang semakin maju, sepakbola mengalami perubahan dari permainan yang mengandalkan fisik semata kearah permainan dengan penggunaan teknik dan kerjasama team yang baik lalu meningkat lagi kearah permainan yang mengoptimalkan sumberdaya pemain guna meraih kemenangan. Hal yang disebutkan terakhir bisa disebut sebagai Manajemen Permainan yang menghasilkan sebuah “Ciri Permainan khas”.
Karena berbasis pada sumberdaya pemain, hasil Manajemen Permainan di tiap negara ikut berbeda disesuikan dengan Ciri dan Karakter Masyarakat tersebut. Manajemen Permainan (MP) Brazil melahirkan Gaya Samba, MP Italia menghasilkan Gaya Cattenacio, MP Jerman menghasilkan Gaya Panzer, MP Belanda hasilkan Gaya Total Football, MP Inggris hasilkan Gaya Kick n' Rush, MP Argentina hasilkan Gaya Tango, MP Kamerun hasilkan Gaya ala Singa Afrika, MP Korsel hasilkan Gaya bermain panjang dan kecepatan dan berbagai Gaya Bermain bola khas sesuai ciri masyarakat sebuah bangsa.
Sepintas lalu, istilah-istilah itu sepertinya sekedar nama/istilah; namun bila dikaji lebih jauh itu tidak saja menunjukkan simpul dan optimalisasi kekuatan sekaligus juga menghadirkan ciri yg berbeda dan khas. Sebagai Optimalisasi kekuatan, Brazil sangat digdaya dengan Gaya Samba - Italia sangat kuat dengan Gaya Cattenacio - Jerman sangat kokoh dengan Sistem Panzer - Belanda sangat dominan dengan Gaya Total Football dan berbagai contoh lainnya. Inilah kenapa mereka bisa menjadi Raksasa sepakbola dunia dan jawara di benua mereka masing-masing.
Dari Benua Asia nama-nama seperti Arab Saudi - Korea Selatan – Jepang – Iran - Irak dan beberapa yang lain adalah langganan Piala Dunia karena juga didukung dengan Ciri Permainan khas. Kebangkitan Thailand, Myanmar, Malaysia di kawasan Asia Tenggara sedikit banyak karena kepedulian mereka tentang pentingnya Manajemen Permainan untuk menghasilkan sebuah Ciri Permainan khas, sebagai simpul dan optimalisasi kekuatan mereka sendiri.
Vitalnya sebuah 'Ciri Permainan khas' , maka Brazil menjadi tidak ada apa-apanya bila menggunakan Gaya Cattenacio, Jerman bukan lagi siapa-siapa bila menggunakan Sistem Samba, Italia menjadi melempem bila menggunakan Gaya Kick n'Rush.
Penggunaan Ciri Permainan yang bukan karakter sebuah Timnas merupakan pengingkaran terhadap kekuatan mereka sendiri di permainan sepakbola.
Dengan Ciri berbeda-beda tersebut, Sepakbola menjadi permainan menarik, atraktif dan variatif. Bila Permainan Brazil lebih banyak di sektor tengah, Italia dominan di sektor belakang, Timnas-Timnas Eropa Timur lebih banyak menyisir di samping lapangan dan berbagai variasi bermain bola lainnya.
Dengan berprinsip bahwa setiap bangsa memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri, lewat sebuah Manajemen Permainan; semua Timnas punya peluang yang sama untuk menang dan kalah. Inilah dasar untuk membangun Timnas Sepakbola Indonesia yang lebih berpengharapan.
Perlu diasah
Ketika Manajemen Permainan menemukan Ciri Permainan khas setiap Timnas, itu adalah Modal Dasar sekaligus langkah awal memasuki Sepakbola Modern.
Sebagai langkah awal, 'Ciri Permainan khas' itu perlu diasah di berbagai Uji Coba dan Turnamen secara konsisten dan terus menerus. Ibarat parang yang terus diasah, Ciri Permainan khas yang terus digunakan akan menghasilkan permainan yang sangat tajam.
Lamanya sebuah 'Ciri Permainan khas' diasah dan digunakan secara konsisten menentukan tingkat Prestasi sebuah Timnas. Bila kelompok Jawara Dunia begitu digdaya, itu dikarenakan 'ciri permainan khas' mereka sudah mengakar selama kurun waktu lama. Demikian juga, berjayanya Arab-Korsel-Jepang-Cina-Iran-Irak, dsb di Benua Asia; juga karena konsistensi mereka menggunakan Ciri permainan khas.
Bagaimana dengan Timnas Sepakbola Indonesia?
Walaupun dengan usia yang terbilang matang (80 tahun usia PSSI), didukung Liga Profesional yg telah bergulir semenjak tahun 1994; Timnas Indonesia merupakan salah satu yang belum "melek" Manajemen Permainan untuk mendapatkan 'Ciri Permainan khas ala Nusantara' - sebagai cerminan dan simpul kekuatan Masyarakat Indonesia (di permainan ini).
Seandainya kita bisa memutar ulang waktu kebelakang, dimana: begitu Liga Profesional Indonesia digulirkan - Ciri Permainan khas Timnas dirumuskan dan ditetapkan sehingga menginspirasi Pola Pembinaan Klub serta mendarahi Liga Indonesia; belasan tahun sesudahnya seperti sekarang; kita setidaknya boleh berbangga diri karena telah memiliki Timnas dengan ciri permainan khas yang makin diakrabi pemain, mulai terasah di berbagai Turnamen Asia Tenggara dan Benua Asia dalam kurun waktu belasan tahun ke belakang, terus dibenahi dan disempurnakan dan setidaknya mulai terpatri dalam hati publik sepakbola tanah air.
Sayangnya, kita tidak memiliki itu hingga sekarang sehingga setiap kekalahan kita tidak bisa mengevaluasi hal seharusnya di evaluasi, kita cenderung membenahi hal-hal yang tidak berhubungan secara langsung dengan apa yang telah membuat kita kalah. Itulah yang terlihat jelas sekarang ini.
Sekarang atau tidak sama sekali
Sebagai sebuah keharusan, PSSI perlu segera merumuskan, menetapkan kemudian menjalankan Ciri Permainan Timnas tanpa kompromi. Ini adalah kekuatan Timnas sebenarnya sehingga siapapun Pelatihnya dan siapapun pemain yang dipilih; Ciri itu harus terus dijalankan secara konsisten dan terus menerus (butuh diasah supaya tajam).
Lamanya sebuah 'Ciri Permainan khas' diasah dan digunakan secara konsisten menentukan tingkat Prestasi sebuah Timnas. Bila kelompok Jawara Dunia begitu digdaya, itu dikarenakan 'ciri permainan khas' mereka sudah mengakar selama kurun waktu lama. Demikian juga, berjayanya Arab-Korsel-Jepang-Cina-Iran-Irak, dsb di Benua Asia; juga karena konsistensi mereka menggunakan Ciri permainan khas.
Bagaimana dengan Timnas Sepakbola Indonesia?
Walaupun dengan usia yang terbilang matang (80 tahun usia PSSI), didukung Liga Profesional yg telah bergulir semenjak tahun 1994; Timnas Indonesia merupakan salah satu yang belum "melek" Manajemen Permainan untuk mendapatkan 'Ciri Permainan khas ala Nusantara' - sebagai cerminan dan simpul kekuatan Masyarakat Indonesia (di permainan ini).
Seandainya kita bisa memutar ulang waktu kebelakang, dimana: begitu Liga Profesional Indonesia digulirkan - Ciri Permainan khas Timnas dirumuskan dan ditetapkan sehingga menginspirasi Pola Pembinaan Klub serta mendarahi Liga Indonesia; belasan tahun sesudahnya seperti sekarang; kita setidaknya boleh berbangga diri karena telah memiliki Timnas dengan ciri permainan khas yang makin diakrabi pemain, mulai terasah di berbagai Turnamen Asia Tenggara dan Benua Asia dalam kurun waktu belasan tahun ke belakang, terus dibenahi dan disempurnakan dan setidaknya mulai terpatri dalam hati publik sepakbola tanah air.
Sayangnya, kita tidak memiliki itu hingga sekarang sehingga setiap kekalahan kita tidak bisa mengevaluasi hal seharusnya di evaluasi, kita cenderung membenahi hal-hal yang tidak berhubungan secara langsung dengan apa yang telah membuat kita kalah. Itulah yang terlihat jelas sekarang ini.
Sekarang atau tidak sama sekali
Sebagai sebuah keharusan, PSSI perlu segera merumuskan, menetapkan kemudian menjalankan Ciri Permainan Timnas tanpa kompromi. Ini adalah kekuatan Timnas sebenarnya sehingga siapapun Pelatihnya dan siapapun pemain yang dipilih; Ciri itu harus terus dijalankan secara konsisten dan terus menerus (butuh diasah supaya tajam).
Selanjutnya, perkenalkan itu secara terbuka supaya masyarakat mengenalnya hingga ikut mengontrol berjalannya Ciri tersebut. Disadari atau tidak, sebuah Ciri Permainan khas dan terasah kemudian melekat erat di sebuah Tim; sanggup menekan mental lawan bahkan sebelum pertandingan dimulai. Persib era 80-90’an adalah contoh sebuah Tim Lokal yang dikenal secara luas hingga kawasan Asia Tenggara dengan Ciri Permainan khas “operan pendek merapat”. Hampir semua Calon Lawan Persib kala itu dipastikan tertekan secara mental dan itu menguntungkan Persib, walaupun terkadang menjadi beban tersendiri. Ketika Ciri ini memudar, Maung Bandung tidak lagi mampu berprestasi karena mengingkari kekuatan mereka lewat permainan pendek merapat.
Dengan telah menetapkan sebuah 'Ciri Permainan khas bagi Timnas', PSSI menjadi lebih mudah melakukan evaluasi dan pembenahan yang tepat sasaran dibandingkan mengevaluasi Timnas tanpa ciri permainan (seperti selama ini) yang jauh dari relevansi masalah sesungguhnya.
Dari urgensi masalah, Perumusan dan Penetapan 'Ciri Permainan Khas' bagi Timnas Indonesia jauh lebih mengemuka ketimbang pembinaan usia dini (yang digagas PSSI pasca Kongres Tahunan mereka di Bandung beberapa waktu lalu).
Pembinaan Pemain memang perlu dan mutlak, tetapi apakah itu tidak cukup diserahkan ke masing-masing Klub yang memang memberlakukan kaderisasi sebagai tuntutan kompetisi? Bukankah sejumlah Tim Pelatnas selama ini dengan berbagai Nama dan Usia tidak satupun yang berhasil apalagi mendongkrak prestasi Timnas lewat keberadaan mereka?
Pertanyaan selanjutnya: Apa Ciri Permainan khas yang sesuai dengan Kultur dan Karakter Masyarakat Indonesia?
Baca terus:
Menyingkap Ciri Permainan khas Timnas Indonesia

Dari urgensi masalah, Perumusan dan Penetapan 'Ciri Permainan Khas' bagi Timnas Indonesia jauh lebih mengemuka ketimbang pembinaan usia dini (yang digagas PSSI pasca Kongres Tahunan mereka di Bandung beberapa waktu lalu).
Pembinaan Pemain memang perlu dan mutlak, tetapi apakah itu tidak cukup diserahkan ke masing-masing Klub yang memang memberlakukan kaderisasi sebagai tuntutan kompetisi? Bukankah sejumlah Tim Pelatnas selama ini dengan berbagai Nama dan Usia tidak satupun yang berhasil apalagi mendongkrak prestasi Timnas lewat keberadaan mereka?
Pertanyaan selanjutnya: Apa Ciri Permainan khas yang sesuai dengan Kultur dan Karakter Masyarakat Indonesia?
Baca terus:
Menyingkap Ciri Permainan khas Timnas Indonesia




0 Comments Received
Leave A Reply