Bila Timnas Indonesia diibaratkan sebagai sebuah Pedang, dan berbagai kejuaraan sepakbola di lingkup Asean - Asia dan Dunia sebagai Ajang Permainan Pedang; maka untuk memenangkan pertarungan tersebut, kita semua pasti sepakat untuk turun gelanggang menggunakan Pedang kita sendiri yang ala Nusantara.

Bila kita meniru Pedang orang Eropa hanya karena silau dengan tajamnya pedang mereka, kita tidak akan pernah mampu melawan orang Eropa karena Model Pedang itu sudah disesuaikan dengan struktur Tangan dan Tenaga orang Eropa. Ketika kita baru mulai menggunakannya, orang Eropa justru sudah mahir dan cekatan. Demikian juga meniru Pedang ala Amerika hanya karena terpesona tajamnya Senjata mereka melibas orang Eropa, kitapun tidak akan mampu mengalahkan Orang Amerika karena ketidaksesuaian Model, struktur tangan dan tenaga.

Jadi gunakanlah Pedang kita sendiri, walau itu sekedar Bambu Runcing; karena kita justru lebih memahami seluk beluk bambu runcing dibandingkan Korea Selatan- Arab Saudi- Inggris - Belanda, dsb

Adapun Pedang yang dimaksud adalah Ciri Permainan khas ala Nusantara yang diperagakan dengan baik oleh Timnas, karena disitulah letak Kekuatan orang Indonesia di Permainan Sepakbola.

Ciri Permainan khas dalam Permainan Sepakbola lebih dari sekedar permainan teknik bermain bola karena didalamnya sudah dipadukan dengan ciri dan karakter Masyarakat Indonesia.

Dengan kembali menggunakan Pedang ala Nusantara (Ciri Permainan khas), terbuka peluang besar bagi kita untuk menembus Putaran Final Piala Dunia 2014 dan Final Piala Asia 2015. Timnas dengan "pedang sendiri" dipastikan menyuguhkan permainan yang membawa harapan.

Faktor Pendukung lain yang mendasari rasa optimis diatas adalah:
  • Kita memiliki "Mesin Produksi" Pemain, yakni Kompetisi Indonesia yang semakin disempurnakan dan berwawasan maju.
  • Kita punya waktu 4-5 tahun kedepan untuk mengakrabi "Pedang kita" Ciri Permainan khas ala Nusantara sekaligus mengasahnya agar tajam - semakin tajam dan mengkilap.

Berikut ini langkah-langkah kerja bilamana kita ingin Lolos Putaran Final Piala Dunia 2014 hingga Partai Final Piala Asia 2015. Sehingga, bukan sekedar tampil di Pra Piala Dunia atau Pra Piala Asia semata yang secara otomatis-pun pasti kita ikuti sebagai Anggota AFC.

1. Persiapkan Pedang khas ala Nusantara mulai sekarang

Tinggalkan berbagai Pedang Gado-gado Made in Eropa atau Amerika Latin, pakai Pedang kita sendiri; yakni Ciri Permainan bola yang khas ala Nusantara. Ingat!! Selama ini kita lebih banyak berurusan dengan gonta-ganti Model dan bentuk permainan, sehingga kita bahkan tidak pernah bisa mengasah sebuah model permainan. Bagaimana mau diasah bila sebentar-bentar harus diganti dan terus diganti sesuai selera Pelatih.

Bila kita ingin Timnas berjaya di Piala Dunia 2014 dan Piala Asia 2015, persiapkan dari sekarang Timnas Sepakbola Indonesia dengan Ciri Permainan khas ala Nusantara. Silahkan baca posting-posting kami sebelumnya tentang Ciri Permainan khas yang paling sesuai untuk Timnas Indonesia.

Kita mungkin terlambat memulainya tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

2. Pilih Pelatih Pedang yang sesuai

Supaya Pemain bisa menggunakan Pedang dengan baik dan cekatan, pilihlah Pelatih Pedang yang memahami Ciri dan Kekuatan orang Indonesia. Pelatih yang baik akan mengoptimalkan sisi kelebihan fisik pemain untuk menutupi segala hal yang merupakan kekurangan.

Berdasarkan posting kami sebelumnya, Pelatih yang tepat adalah Ivan Kolev untuk Pelatih Asing atau A. R. Gurning (yang kini sedang melatih PSPS) bila pilihannya Pelatih Lokal. Keduanya sangat paham dan mengerti pentingnya bertarung dengan Pedang Ala Nusantara, ketika yang lain lebih banyak mengurusi sisi Teknis bermain bola yang sudah lama ditinggalkan para jawara dunia dan berbagai Tim unggulan.

3. Mulailah mengasah Pedang ala Nusantara dari 2010 ini, Jangan ditunda!!

Menemukan Model Pedang yang tepat serta Pelatih yang sesuai belumlah cukup, karena yang dibutuhkan selanjutnya adalah mengasah "pedang" itu sebelum digunakan. Kita tidak mungkin bertarung dengan Pedang Tumpul, bukan? Setelah Ciri Permainan khas ala Nusantara ditetapkan sebagai Model Bermain Timnas Indonesia, pekerjaan selanjutnya adalah mengasah Ciri itu dari tumpul menuju Tajam.

Jangan lagi mengasahnya di Pertandingan Uji Coba tetapi asahlah sekaligus di Turnamen resmi mulai tahun 2010 ini. Berturut-turut ada Piala Kemerdekaan Indonesia 2010, Asian Games 2010, lalu Sea Games 2011 kemudian Piala Tiger, Merdeka Games Kuala Lumpur hingga Piala Sultan Brunei, dsb.

Mengasah Ciri Permainan ala Nusantara di Pertandingan resmi tentu membuat daya asah "Pedang" lebih kuat karena lawan setidaknya lebih serius, ini bedanya mengasah "pedang" dengan Pertandingan Uji Coba yang penuh kehati-hatian.

Dengan banyaknya Turnamen yang mengasah Ciri Permainan Timnas sebelum tahun 2014, itu menjadi Modal bersaing di Piala Dunia 2014. Seandainya kita kalaupun, kita masih bisa berbesar hati karena memang "Pedang" kita belum setajam Pedang Brazil- Pedang Italia- Pedang Jerman, bahkan dibandingkan Pedang Ginseng Korsel - Arab, dsb.

4. Benahi Mental Bertarung

Terpenuhinya point 1-3 seperti diatas, belumlah jaminan untuk berprestasi bilamana Pemain Pedang-nya (Pemain Timnas) kurang PD atau grogi.

Ini adalah pemandangan umum Pemain Timnas selama ini sehingga mereka seakan baru belajar menendang bola.

Artinya juga, Aspek Mental Bertanding mempunyai peranan penting yang bahkan sama vitalnya dengan Ciri Permainan khas ala Nusantara.

Untuk membenahi Mental Bertarung Pemain Timnas, silahkan lihat di posting kami sebelumnya yang sudah dibahas lengkap.

Akhirnya......

Bila keempat hal diatas dilakukan dan dibenahi selama 4-5 tahun kedepan dari sekarang (2010), tanpa diselingi hal-hal lain yang kurang penting seperti Pembinaan dan pembinaan, kita boleh sangat optimis bahwa:
  • Untuk pertama kalinya Lagu Indonesia Raya akan berkumandang kencang di Putaran Final Piala Dunia 2014, sebagai tanda keikutsertaan Indonesia.
  • Untuk pertama kalinya Lagu Indonesia Raya akan berkumandang di Partai Final Piala Asia 2015.
Sekali lagi.....mengapa kita harus sangat optimis? karena kita bertarung dengan Pedang ala Nusantara yang mulai diasah di berbagai Turnamen selama kurun 2010 - 2014.

Namun demikian, semua yang dijelaskan diatas akan menjadi sekedar tulisan bilamana PSSI di usia tua yang sudah 80 tahun, lagi-lagi hanya terus mencari Model Pedang yang sesuai (ala Eropa-kah atau Amerika-kah); bahkan kembali mengurusi masalah Pembinaan dan pembinaan tanpa henti, seakan kita baru berdiri seumur jagung.

Ingat!! Mengurusi pembinaan berarti mengingkari Roda Kompetisi kita sendiri yang setiap tahun mencetak ribuan Pemain, sementara dalam putarannya itu semua Klub secara otomatis melakukan pembinaan sebagai tuntutan Kompetisi. Mengapa juga masalah Pembinaan tidak diserahkan ke mereka saja, bukan?

Malulah pada Usiamu PSSI.......


Bravo Timnas Indonesia