Mental bertanding dalam sebuah permainan sepakbola ibarat Rohnya Permainan itu sendiri. Pada sejumlah Tim elit dunia dengan Ciri Permainan khas terasah serta teknis bermain yang nyaris berimbang; faktor mental bertanding sering menjadi penentu kemenangan.

Dalam beberapa kasus, sering terjadi bahwa Tim dengan Mental Bertanding lebih baik walaupun kualitas seadanya, mampu menjungkalkan Tim bertabur bintang. Namun demikian, ini bukan acuan bahwa Mental Bertanding lebih penting dari Teknis Bermain (Ciri Permainan khas) karena keduanya merupakan kesatuan dalam Sepakbola Modern. Tim dengan Ciri Permainan Khas dan ditopang Mental Bertanding baik, biasanya tidak sulit meraih kemenangan dan menjadi Juara.

Kemerosotan Prestasi Timnas Indonesia dalam dua dekade ke belakang; disamping ketiadaan Ciri Permainan khas seperti pembahasan sebelumnya; juga diakibatkan Mental bertanding pemain yang kurang sehingga berdampak pada semangat juang yang rendah serta tidak konsistennya pemain menjalankan Strategi dan Taktik Pelatih.

Pembenahan Mental Bertanding lebih sulit

Dibandingkan upaya membangun Ciri Permainan khas Timnas, pembenahan Mental bertanding jauh lebih sulit karena ini melibatkan banyak aspek hingga yang di luar wewenang PSSI.

Efek Globalisasi yang sedikit banyaknya menggerus Rasa Nasionalisme berbagai bangsa di dunia, adalah kenyataan serius yang perlu disikapi karena juga mempengaruhi faktor non teknis nan vital ini. Banyak kasus nyata di sepakbola Indonesia, dimana ada Pemain yang menolak memperkuat Timnas dengan berbagai alasan, Pemain tidak memiliki kebanggaan besar berkostum Merah Putih, dan berbagai kasus lainnya. Kondisi ini tentu berbeda dengan Pemain-pemain Nasional di Eropa atau Benua lainnya yang sangat berambisi memperkuat Timnas Negaranya dengan berbagai cara.

Simak penuturan Peter Withe yang pernah menukangi Timnas Indonesia periode 2004-2007, seperti termuat di detiknews.com, 22 jan 2010.
"Saya pikir masalah terbesar terkait pemain Thai dengan pemain Indonesia adalah soal kebanggaan saat mereka bermain dan mengenakan kostum timnas. Pemain Thai bermain untuk Raja dan negaranya. Sedihnya, banyak pemain Indonesia (didorong) oleh uang."
Apa yang diungkapkan Peter Withe tersebut, selayaknya menjadi bahan koreksi sekaligus evaluasi demi kemajuan Sepakbola Indonesia di masa mendatang.

Timnas sebuah negara yang sering mencetak Prestasi atau sedang dalam grafik permainan meningkat, biasanya memiliki Mental Bertanding yang baik. Artinya disini, raihan kemenangan hingga torehan Prestasi membantu meningkatnya rasa percaya diri para pemain.

Sedangkan Timnas yang sering menderita kekalahan, apalagi dalam rentang waktu panjang; performa buruk ini biasanya ikut menjatuhkan Mental Bertanding, pemain menjadi kurang percaya diri bahkan sering melakukan kesalahan-kesalahan mendasar yang tidak perlu. Timnas Indonesia adalah contoh untuk kasus Mental Bertanding yang perlu dibenahi.

Berbagai permasalahan di atas menjadi gambaran bahwa pembenahan Mental Bertanding Timnas, bukanlah hal sepele yang semata dikatakan atau diucapkan ke Pemain untuk mereka semangat dan termotivasi. Perlu sebuah Strategi Jitu demi mendongkrak itu.

Di balik ide ambisius seorang Nurdin


Keinginan PSSI untuk mendaftarkan diri sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 perlu diberi apresiasi tersendiri sebagai strategi jitu membangun Timnas yang tangguh. Terlepas bahwa rencana itu dianggap berlebihan oleh banyak pihak, dari sisi pembenahan Mental bertanding Timnas Indonesia sangatlah efektif bahkan efisien.

Logikanya sederhana, dengan menancapkan target tinggi sebagai Tuan Rumah Piala Dunia kemudian semua sub sistem diarahkan ke target itu; secara otomatis merangsang pemain untuk berlatih lebih keras - berlari lebih kencang hingga termotivasi dengan lebih tinggi. Dalam benak pemain akan terbayang jelas bahwa salah satu dari Jawara Dunia akan jadi lawan mereka di fase grup. Beban sebagai Tuan Rumah serta kekuatiran yang besar untuk tidak menjadi lumbung gol, merupakan sisi positif yang merangsang munculnya motivasi membara.

Bila rencana itu terealisasi dengan apapun pencapaian Timnas di dalamnya; punya dampak positif dan menguntungkan Timnas ketika berlaga di Piala Asia maupun Asia Tenggara yang notabene di bawah Piala Dunia. Di sini, Pemain menjadi rileks dan mental “kalah sebelum bertanding” yang biasanya muncul akan hilang karena Timnas merasa sejajar dengan Peserta lainnya untuk memandang “musuh” yang sama. Tinggal diselaraskan dengan pelatihan “Brainwave Management”, dampaknya akan sangat luar biasa.

Berikut ini, Perbedaan Motivasi dan Semangat Pemain sesuai Target yang dibidik:
  • Bila Timnas dipersiapkan untuk Sea Games, secara otomatis Pemain akan menjadikan Thailand sebagai acuan dalam berlatih. Bilamana mereka merasa kemampuan Pemain Thailand tidak jauh berbeda dengan Indonesia, Pemain akan berlatih ala kadarnya.
  • Bila Timnas dipersiapkan untuk Piala Asia, secara otomatis Pemain akan membidik Korsel-Jepang-Cina-Arab-dll sebagai Acuan dalam berlatih. Karena negara2 itu memang setingkat di atas Timnas, Pemain akan berlatih dengan lebih giat dan lebih bersemangat (tanpa komando).
  • Ketika Timnas dipersiapkan menghadapi Piala Dunia, apalagi menjadi Tuan Rumah seperti diatas (sehingga langsung masuk Putaran Final) ; secara otomatis Pemain akan melihat sosok Jerman-Brazil-Italia-Inggris- dll sebagai Acuan dalam berlatih. Berhubung negara-negara itu berada 2-3 tingkat di atas Timnas, dengan sendirinya (tanpa dikomando), Pemain akan berlatih lebih giat dan bahkan spartan. Bila biasanya mereka berlari sebanyak 5 keliling mengitari lapangan, kini tanpa disuruh mereka akan melakukannya hingga 20 keliling, bila biasanya mereka push up 50x, kini menjadi 200 x, dan berbagai latihan fisik lain yang dilakukan dengan sangat serius dan meningkat.
Dengan menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022, Timnas diuntungkan secara Moril karena punya pengalaman menjajal kemampuan Timnas-Timnas Unggulan Dunia dalam sebuah Kejuaraan Resmi. Walaupun Timnas akhirnya tersingkir juga di penyisihan grup Putaran Final tersebut, Ibarat memanjat pohon prestasi.... Timnas setidaknya pernah sampai di atasnya.

Perasaan "pernah bermain di Putaran Final Piala Dunia" secara otomatis meningkatkan rasa Percaya diri Pemain atau generasi berikutnya ketika mereka bertanding di kejuaraan sepakbola level Asia Tenggara atau Piala Asia.

Bila selama ini, membidik target tinggi selalu dilihat sebagai upaya selangkah demi selangkah dari bawah; demi Pembenahan Mental Bertanding Timnas secara efektif serta mempermudah pencapaian Target-target di bawahnya; Rencana PSSI untuk menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022 perlu didukung sebagai Strategi Jitu membangun Sepakbola Nasional yang tangguh di kancah Internasional.

Ini salah satu kelebihan Seorang Nurdin Halid yang terkadang idenya sulit dipahami orang kebanyakan namun sebenarnya sangat efektif bahkan efisien bagi kemajuan Sepakbola Indonesia.

Untuk kedepan, sebaiknya PSSI jangan lagi hanya membuat Target sebatas Sea Games atau Kejuaraan di Kawasan Asia Tenggara tetapi beranilah untuk menggantung Cita-cita setinggi langit. Tancapkan Target setinggi mungkin untuk men-sugesti pemain berlatih dengan lebih serius.

Rasanya bukan kelas Indonesia lagi untuk berkutat di kawasan kecil (Asia Tenggara), karena kita pernah di kenal di Kawasan Asia bahkan dunia. Semua Tim Unggulan di kawasan ini sudah menatap Asia dan Dunia..... kapan giliran kita?

Kesimpulam Akhir untuk keseluruhan Posting ttg Timnas:

Bilamana Timnas Indonesia ingin kembali berjaya di Asia Tenggara, Benua Asia bahkan Dunia, hal yang perlu dilakukan adalah:
  1. Segera rumuskan dan tetapkan Ciri Permainan khas Timnas Indonesia. Caranya: Gabungkan Strategi Ivan Kolev yang pernah dipakai Timnas di Piala Asia 2007 yang lalu dengan Strategi Persib Era 80-90'an. Jadikan Ciri Permainan khas ini sebagai Platform Timnas yang harus dipakai oleh siapapun Pelatihnya. Selanjutnya perkenalkan kepada masyarakat untuk ikut mengontrol berjalannya Ciri tersebut.
  2. PSSI perlu segera membenahi Mental Bertanding Para Pemain Timnas, dengan cara:
  • Ciptakan Sistem untuk membangun kebanggaan Pemain memperkuat Timnas
  • Buat Pelatihan "Brainwave Management" bagi seluruh Pemain Timnas guna menumbuhkan rasa percaya diri.
3. Masyarakat ikut mendukung upaya PSSI untuk menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022.



Bravo Timnas Sepakbola Indonesia.