Kegagalan Timnas U-23 di Sea Games Laos dan Timnas Senior di Pra Piala Asia 2011, menyebabkan PSSI mengeluarkan berbagai jurus baru guna perbaikan sekaligus menghadapi Kejuaraan Sepakbola di tahun 2010 dan 2011.
Salah satunya adalah isu Pergantian Pelatih U-23 yang santer kabarnya akan dipegang oleh ALfred Riedl, walaupun hingga kini masih menunggu persetujuan dari Pejabat yang berkepentingan. Mengemukanya nama Riedl tidak terlepas karena ybs dianggap sukses membawa Vietnam dan Laos di jajaran atas Sepakbola Asean.
Persoalannya, tepatkah PSSI bilamana (akhirnya) menunjuk seorang Alfred Riedl menangani Timnas Indonesia?
BTN (rupanya) belum memahami Akar Kegagalan Timnas Indonesia
Terlepas dari jadi tidaknya rencana di atas, mengemukanya nama Riedl merupakan gambaran bahwa BTN sebagai Bidang Kerja PSSI yang membawahi Timnas tidak memahami akar kegagalan Timnas selama kurun waktu 20 tahun sekaligus juga tidak mempunyai Visi Maju yang sejalan dengan Tuntutan Sepakbola Modern.
Seperti pada posting-posting kami sebelumnya bahwa Akar kegagalan Timnas adalah akibat ketiadaan Ciri Permainan khas yang menggambarkan kekuatan orang Indonesia di permainan sepakbola, hal ini selayaknya dijadikan Acuan bagi BTN dalam memilih Pelatih Timnas yang sesuai dengan Akar permasalahan.
Seperti pada posting-posting kami sebelumnya bahwa Akar kegagalan Timnas adalah akibat ketiadaan Ciri Permainan khas yang menggambarkan kekuatan orang Indonesia di permainan sepakbola, hal ini selayaknya dijadikan Acuan bagi BTN dalam memilih Pelatih Timnas yang sesuai dengan Akar permasalahan.
Bahwa Ciri Permainan itu sesuatu yang vital dalam sepakbola modern, BTN perlu menerapkannya dari sekarang tanpa kompromi. Dengan begitu, pemilihan pelatih menjadi mudah karena tinggal disesuaikan dengan kebutuhan Timnas itu sendiri.
Riedl bukanlah jawaban bagi Timnas
Riedl bukanlah jawaban bagi Timnas
Keberhasilan Alfred Riedl mengangkat Pamor Sepakbola Vietnam kemudian Laos di Sea Games 2009 yang lalu, tidak dapat dipungkiri sebagai kemampuan ybs untuk meramu karakter orang Indocina lalu diterjemahkannya dalam Ciri Permainan khas bagi Timnas Vietnam dan Laos.
Ini memang baru permulaan, tetapi bila ciri itu terus diasah oleh kedua Timnas tersebut; kita tidak perlu kaget bilamana Timnas Indonesia akan kesulitan bahkan selalu kalah dari keduanya di masa mendatang. Mengapa? karena keduanya bermain dengan Ciri Permainan khas terasah sementara Timnas kita justru tidak menganggap itu penting.
Riedl memang piawai untuk meramu Vietnam dan Laos menjadi kekuatan baru sepakbola di kawasan Asean, tetapi itu bukanlah jaminan bahwa dia mampu melakukan hal yang sama untuk Timnas Indonesia. Ingat!! kita berbeda dari Vietnam dan Laos, dalam hal usia (Timnas Indonesia sudah berusia 80 tahun), kita punya Kompetisi yang lumayan bagus, Timnas kita dulu pernah berjaya walaupun sekarang menukik prestasinya, kemudian karakter masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat Indocina. Perbedaan itu menjadi gambaran bahwa penanganan Timnas Indonesia berbeda dengan penanganan Timnas Vietnam dan Laos.
Bila Vietnam dan Laos sedang semangat-semangatnya untuk "unjuk gigi" di kawasan ASEAN, sebaliknya Indonesia yang bahkan pernah menjadi Macan Asia membutuhkan cara penanganan lain untuk mengembalikan kejayaan itu sendiri. Hal itu berarti, Riedl bukanlah orang yang tepat untuk Tim yang lumayan matang usia seperti Timnas Indonesia .
Seperti ulasan kami di posting sebelumnya, nama Ivan Kolev layak diapungkan bilamana faktor Pelatih Asing dianggap punya nilai lebih. Pemilihan Kolev tentu saja karena ybs sangat memahami letak kekuatan orang Indonesia di permainan sepakbola, dan itu sudah dipraktekkannya di Piala Asia 2007 yang lalu. Silahkan baca posting-posting kami sebelumnya tentang hal tersebut.
Sebagai Tim yang boleh dibilang matang usia serta didukung Mesin Produksi Pemain yang baik (kompetisi), yang dibutuhkan Timnas Indonesia sebenarnya adalah Penerapan Ciri Permainan khas tanpa kompromi dan bukan lagi pembenahan hal-hal mendasar bermain bola apalagi mengurusi Pembinaan.
Karena urgensinya adalah Penerapan Ciri Permainan khas, dalam hal ini Operan Pendek merapat-kaki ke kaki; Pelatih Lokalpun dapat dikedepankan. Salah satu yang paling memenuhi kriteria adalah A. Rahman Gurning.
Pemilihan A.R. Gurning bukan semata-mata karena ybs memiliki Lisensi A AFC dalam Kepelatihan tetapi lebih pada pemahamannya pada kekuatan Sepakbola Indonesia itu sendiri. Simak sekilas pandangannya yang dimuat di berbagai media, sbb:
"Timnas kita jangan ikut-ikutan cara bermain bola dengan gaya Eropa atau Brasil karena kita telah memiliki karakter permainan bola sejak dulu yakni permainan cepat dari kaki ke kaki," ujarnya.
Karena urgensinya adalah Penerapan Ciri Permainan khas, dalam hal ini Operan Pendek merapat-kaki ke kaki; Pelatih Lokalpun dapat dikedepankan. Salah satu yang paling memenuhi kriteria adalah A. Rahman Gurning.
Pemilihan A.R. Gurning bukan semata-mata karena ybs memiliki Lisensi A AFC dalam Kepelatihan tetapi lebih pada pemahamannya pada kekuatan Sepakbola Indonesia itu sendiri. Simak sekilas pandangannya yang dimuat di berbagai media, sbb:
"Timnas kita jangan ikut-ikutan cara bermain bola dengan gaya Eropa atau Brasil karena kita telah memiliki karakter permainan bola sejak dulu yakni permainan cepat dari kaki ke kaki," ujarnya.
Siapapun diantara Ivan Kolev dan A.R. Gurning yang akhirnya dipilih, kita boleh kembali berharap banyak pada Timnas Indonesia. Kalaupun belum berprestasi dalam waktu dekat, paling tidak Timnas kita akan menyajikan sebuah permainan yang memberi harapan.
Bagaimana bila bukan Kolev atau Gurning? selama figur lain memiliki pemahaman yang sama dengan Kolev dan Gurning, artinya Figur tersebut punya Visi Sepakbola Modern sehingga kitapun boleh berharap banyak. Bilamana tidak, berhentilah untuk berharap dari pada anda mesti kecewa dan kecewa.
Bravo Timnas Indonesia




0 Comments Received
Leave A Reply